Masih dari Sumba tepatnya di Kabupaten Sumba Tengah. Peningkatan taraf ekonomi terasa berjalan amat lambat di sini. Badan Pusat Statistik pada 2024 mencatat terdapat 30,84 persen penduduk miskin di wilayah ini. Angkanya hanya turun 0,94 persen dibanding tahun sebelumnya dan tetap menjadikan Sumba Tengah sebagai kabupaten termiskin se-Nusa Tenggara Timur.
Kemiskinan yang masih mendekap hangat Sumba Tengah berkelindan dengan banyak faktor turunan lainnya yang menciptakan lingkaran struktural. Akses pendidikan rendah, masalah kesehatan, termasuk kerentanan keluarga yang sering kali membuat anak-anak tumbuh tanpa perlindungan sosial yang memadai.
Dari tanah yang penuh keterbatasan itu, talenta-talenta lahir orang-orang yang memilih untuk berjuang meretas batas demi perubahan. Perempuan muda bernama Rambu Asana atau akrab disapa Rambu adalah contoh talenta besar yang dimiliki Sumba Tengah sekarang. Pikiran dan tindakannya di dunia sosial selama ini telah tercurah dengan mengelola panti asuhan serta kelompok belajar untuk anak-anak Sumba yang kurang beruntung.
Rambu adalah penerima Beasiswa LPDP jalur Daerah Afirmasi pada 2019 dengan studi Magister Social Policy di University of Melbourne, Australia. Alih-alih menetap di luar negeri, berganti kewarganegaraan, dan menikmati silau gemerlap, Rambu justru pulang. Iya, pulang ke Sumba, bukan pula merantau ke Jawa yang lebih terang.
Panti asuhan sudah menjadi rumahnya. Ibunya membawa Rambu sejak kecil untuk tinggal di tengah-tengah panti asuhan sebagai tempatnya bekerja sekaligus mengabdikan diri. Ia makan bersama mereka, belajar bersama mereka, dan tumbuh di lingkungan yang sama, lingkungan yang mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang kerentanan sosial. Di situlah Rambu mulai memahami kehidupan dari sisi yang jarang terlihat oleh banyak orang.
“Kalau saya balik ke daerah saya, saya hidup dan besar di daerah saya, saya ngerti apa yang terjadi,” katanya.
Ia tahu ada banyak hal yang harus dilakukan untuk memberi manfaat nilai lebih dengan ilmu yang didapatnya dari Negeri Kangguru.
“Ilmu saya bukan cuma jadi uang, tapi juga jadi makna buat orang lain.”
Rambu jelas tidak datang dari jalan privilese. Kehidupannya lebih dekat dengan kesederhanaan layaknya penduduk Sumba Tengah pada umumnya. Bahkan sudah merasakan kehilangan sosok ayah sedari Rambu balita. Sejak itu ia dibesarkan oleh ibunya yang memikul peran ganda sebagai tulang punggung ekonomi.
Kondisi tersebut ternyata justru menumbuhkan sisi pejuang tangguh dalam diri Rambu. Pembuktian demi pembuktian prestasi dilakukan untuk menunjukkan bahwa meretas batas baginya bukan hal mustahil.
Tumbuh Bersama di Panti Asuhan
“Bapak saya sudah meninggal dari berusia satu tahun sembilan bulan, kalau tidak salah diceritakan oleh ibu saya,” kenangnya.
Sang ibu bekerja sebagai guru sekaligus relawan di sebuah panti asuhan. Sejak belia Rambu diajak ke tempat ibunya mengajar dan dimulailah kehidupannya yang hidup bersama-sama dengan anak panti asuhan.
Panti asuhan tempat Rambu tumbuh berada di bawah naungan Yayasan Binar Asa Sumba. Yayasan ini didirikan bukan sekadar untuk menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak yatim. Fokus utamanya adalah menjawab persoalan kemiskinan yang kompleks di Sumba Tengah—terutama yang berkaitan dengan anak-anak yang hidup dalam situasi keluarga yang rapuh.
“Di Binar Asa ini kami lebih kepada menjawab persoalan kemiskinan,” kata Rambu. “Terutama anak-anak yang terlantar atau hidup di tengah keluarga yang bisa dibilang kurang sehat untuk mereka.”
Banyak anak yang datang ke panti itu sebenarnya masih memiliki orang tua. Namun kondisi keluarga mereka sering kali tidak memungkinkan mereka untuk tumbuh dengan aman.
Sebagian anak lahir dari hubungan di luar pernikahan dan kemudian ditinggalkan. Ada pula anak-anak yang diasuh oleh nenek atau kerabat karena orang tuanya merantau atau tidak mampu membesarkan mereka.
Dalam beberapa kasus, keluarga pengasuh itu sendiri kemudian meninggal atau tidak lagi sanggup merawat anak tersebut.
“Misalnya anaknya dititipkan ke omanya, lalu omanya meninggal dan anaknya tidak tahu harus ke mana,” jelas Rambu.
Dalam situasi seperti itu, panti asuhan menjadi tempat terakhir yang dapat memberi perlindungan bagi anak-anak tersebut.
Meski memiliki peran penting, kehidupan di panti asuhan itu jauh dari kata mewah. Fasilitasnya sederhana, dan sebagian besar kegiatan berjalan berkat pengabdian para relawan.
Panti asuhan ini tidak berbayar dan mengandalkan pemasukan dari donatur atau bahkan dalam beberapa kesempatan, para pengasuh harus menggunakan uang pribadi untuk menutupi kebutuhan dapur ketika persediaan menipis.
“Ibu saya dan satu pengasuh lain tidak dibayar sama sekali. Kadang malah mereka yang membayar uang lauk kalau sudah menipis,” kata Rambu.
Jumlah anak yang tinggal di panti itu juga berubah-ubah seiring kondisi pendanaan.
Sekitar satu dekade lalu, ketika panti tersebut masih memiliki donor tetap dari Yayasan Dharmais di Jakarta, jumlah anak yang diasuh pernah mencapai sekitar 70 orang. Namun setelah dukungan itu berkurang, kemampuan panti untuk menampung anak juga menurun drastis.
Kini jumlah anak yang tinggal di sana biasanya sekitar dua puluh orang—jumlah yang dianggap masih realistis untuk ditangani dengan sumber daya yang terbatas.
Sebagian besar anak yang tinggal di sana hanya dapat disekolahkan hingga tingkat SMA. Setelah itu, tidak semua memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Mereka diajari berbagai keterampilan sederhana: membuat aksesori tradisional, belajar bertani, dan berbagai kegiatan lain yang dapat menjadi bekal ekonomi ketika mereka kembali ke masyarakat.
“Setelah lulus SMA, kami berusaha mencari beasiswa. Tapi kalau belum beruntung, mereka harus kembali ke keluarga dan mencari uang sendiri,” jelas Rambu.
Pendidikan yang Diusahakan
Ibunya adalah guru PNS sekaligus relawan pengasuh panti, tetapi menjadi orang tua tunggal setelah ayahnya meninggal ketika Rambu berusia sekitar 1 tahun 9 bulan.
Kendati ibunya berstatus Pegawai Negeri Sipil, secara teori gajinya membuat pendidikan masih mungkin dibiayai. Tetapi di daerah seperti Sumba, besaran biaya pendidikan untuk bisa bersekolah di tempat yang bagus yang umumnya berada di Jawa jelas tersengal-sengal bahkan tak sedikit menjadi mustahil.
Salah satu adegan sosial yang sangat kuat untuk menggambarkan kesulitan berkelindan dengan upaya besar pendidikan adalah gadai SK PNS. Ini adalah praktik yang cukup jamak di banyak daerah Indonesia timur, pegawai negeri meminjam uang di bank atau lembaga keuangan dengan menjaminkan SK pengangkatan PNS.
“Di sini itu rahasia umum bahwa orang-orang mampu menyekolahkan anaknya dengan meminjam dana, jadi menggadaikan SK kemudian meminjam dana pendidikan.” ujarnya.
Ia hampir tidak pernah membayar biaya sekolah.
“Dari SD sampai SMA saya tidak pernah bayar uang sekolah… saya dihantar oleh beasiswa.”
Beasiswa itu datang dari prestasi lomba, bantuan pendidikan sekolah atau hadiah lomba yang dijadikan biaya sekolah oleh ibunya. Ibunya selalu memilih uang hadiah lomba dijadikan biaya pendidikan, bukan uang saku.
Bertahun-tahun hidup di lingkungan seperti itu meninggalkan jejak mendalam dalam diri Rambu.
Ia tumbuh menyaksikan bagaimana anak-anak yang kurang beruntung berjuang untuk bertahan hidup, sekaligus bagaimana solidaritas dan kepedulian dapat mengubah kehidupan mereka.
Pengalaman itu pula yang membentuk pilihan akademiknya kelak.
“Singkat cerita, saya grew up menjadi anak yang menyukai dunia sosial,” katanya.
Ia diterima di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengambil jurusan yang berkaitan dengan isu sosial dan pembangunan, yaitu Hubungan Internasional. Beasiswa dari Korea menjamin pendidikannya lancar sampai lulus.
Pengalaman kuliah di Jawa membuka wawasan baru baginya. Berjumpa dengan berbagai diskusi tentang pembangunan, kebijakan publik, hingga kerja-kerja kemanusiaan lintas negara. Rambu sempat bekerja di beberapa organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang kemanusiaan, salah satunya yang cukup besar adalah Save The Children.
Pada 2019, ia berhasil lolos dalam seleksi Beasiswa LPDP jalur afirmasi, sebuah program yang memang dirancang untuk memberi kesempatan bagi putra-putri daerah tertinggal melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Pandemi COVID-19 membuat keberangkatannya tertunda. Ia baru memulai studinya pada 2021 di The University of Melbourne, Australia, mengambil program Master of Social Policy.
Di Melbourne, ia mempelajari berbagai pendekatan kebijakan sosial yang digunakan untuk mengatasi persoalan kemiskinan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat.
Namun bagi Rambu, pelajaran paling penting dari studinya bukan hanya teori akademik.
Setiap kali mempelajari kebijakan sosial di kelas, ia selalu teringat pada pengalaman hidupnya sendiri di Sumba
Karena itulah sejak awal ia tidak pernah benar-benar membayangkan masa depannya jauh dari tanah kelahirannya.
Dari Komunitas Belajar ke Lahirnya Naka Education
Rambu kembali ke Sumba Tengah dengan sebuah pertanyaan besar, apa yang bisa ia lakukan secara langsung untuk masyarakat di daerahnya? Pada 2020 ia memulai dengan membentuk sebuah komunitas belajar kecil bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.
Komunitas kecil itu perlahan berkembang hingga akhirnya menjadi sebuah lembaga yang lebih terstruktur bernama Yayasan Naka Edukasi Nusantara, yang lebih dikenal dengan Naka Education.
Lahirnya Naka Education juga tidak lepas dari situasi pandemi COVID-19 yang membuat banyak anak kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh.
Di daerah seperti Sumba Tengah, tidak semua anak memiliki gawai atau akses internet yang memadai. Banyak dari mereka bahkan belum terbiasa menggunakan perangkat digital untuk belajar.
Situasi itulah yang mendorong Rambu membuka ruang belajar bagi anak-anak di sekitarnya.
Anak-anak datang setiap sore untuk belajar bersama, membaca buku, berdiskusi, atau sekadar mendapatkan bimbingan dalam pelajaran sekolah. Seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi lebih luas. Relawan mulai bergabung, program-program belajar bertambah, dan semakin banyak anak muda yang datang untuk ikut belajar.
“Saya bikin empat sesi kelas. Dalam ruangan besar itu saya mengajar kurang dari 10 anak. Saya mengajarkan bahasa Inggris, IPA, dan Matematika.”
Apa yang dimulai sebagai kelas kecil kini berkembang jauh lebih besar. Dalam lima tahun, Naka Education telah memiliki lebih dari selusin pengajar dan ratusan siswa.
“Sekarang sudah 12 orang pengajar… total tim kami ada 14 orang,” kata Rambu.
Programnya juga berkembang. Tidak hanya bimbingan belajar untuk anak sekolah, tetapi juga pelatihan kerja bagi anak muda yang menganggur.
Mereka membuka kelas TOEFL dan IELTS, pelatihan administrasi, hingga keterampilan kerja.
Beberapa program bahkan bekerja sama dengan lembaga internasional seperti British Council untuk memberikan pelatihan digital kepada masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Saya selalu percaya bahwa kemiskinan itu mampu untuk kita eradicate. Salah satu yang besar pengaruhnya dari pendidikan,” katanya.
Rambu tahu betul dari pengalaman hidupnya tentang bagaimana rasanya tumbuh tanpa privilese sosial, tanpa nama keluarga yang dikenal, bahkan tanpa sosok ayah yang perannya di Sumba bisa membuka jalan. Dan akhirnya juga tahu bahwa pendidikan dapat mengubah semuanya itu. Melalui pendidikan, seseorang bisa memperoleh pengakuan, kesempatan, dan kepercayaan diri.
Melebur Kembali, Ingin Meninggalkan Legacy
“Saya ingin mati dikenal… bukan dikenal karena banyak uang, tapi karena pernah ada dalam perjalanan hidupnya mereka,” katanya pelan.
Kalimat itu mungkin terdengar sangat idealis atau bahkan utopis. Namun sekali lagi ini tentang Sumba, tempat orang-orang masih bertungkus lumus dengan kenyataan kemiskinan. Kehadiran seseorang yang telah bersusah payah meningkatkan kapasitas diri seperti Rambu dan memilih pulang masih menjadi suatu keputusan sekaligus pertaruhan besar.
Energinya untuk terus berbagi mengalahkan segalanya. Bukan dikenang karena kekayaan. Bukan karena jabatan. Tetapi karena pernah hadir dalam perjalanan hidup orang lain. Bagi anak-anak yang kini belajar di ruang kelas kecil Naka Education, atau di ruang-ruang perjumpaan lainnya yang akan terbentuk seiring waktu.
Dan lagi-lagi dari keputusan pulang ke Sumba, ke Indonesia itulah ia dapat memberi dampak. Masa depan baru sedang ditulis.



