Para peternak sapi di Kelompok Tani Nekmates di Merbaun, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur sedang tersenyum lebar. Pasalnya, sapi-sapi mereka mengalami pertambahan bobot antara setengah sampai dua kilogram per harinya. Alhasil sapi cepat gemuk cepat panen dan harga jualnya tentu lebih tinggi.
Bobot sapi adalah penentu kunci bagaimana harga pasar membayar letih para peternak selama membesarkan mereka. Sebelumnya para peternak sapi ini hanya untung Rp3,5 juta per ekor dan hanya sekali panen dalam setahun. Sekarang dengan pesatnya pertumbuhan badan sapi, keuntungan per ekornya bisa 13 sampai 14 juta rupiah dalam panen tiga sampai empat kali setahun.
Lalu apa yang membuat sapi-sapi ini bisa tumbuh pesat? Jawabnya adalah racikan pakan sapi yang berhasil ditemukan oleh seorang ahli peternakan dari Politeknik Pertanian Negeri (Poltani) Kupang, Cardial L.O. Leo Penu. Menariknya lagi, bahan baku utamanya adalah tanaman lokal yang banyak tumbuh liar.
“Inovasi kami adalah membuat Pakan Konsentrat Kaya Pati, sumber energi berbasis putak” tutur Cardial yang juga selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politani Kupang ini.
Penelitian Cardial seolah menjadi jawaban atas hambatan dan stagnasi yang dihadapi para peternak sapi lokal. Ada peran LPDP dalam mensukseskan lahirnya racikan pakan ternak ajaib yang mampu menyulap para sapi menjadi lebih gempal.
Seperti apa pakan konsentrat berbasis putak lokal itu? Apa komentar peternak sekaligus mitra dalam riset ini? Berikut adalah hasil cerita langsung dari Kupang saat LPDP menemuinya pada awal Desember 2025 kemarin bersamaan dengan selesainya durasi pendanaan riset.
Mengembalikan Lagi Kejayaan Sapi NTT
Sudah sejak lama Nusa Tenggara Timur (NTT) dan khususnya Kupang dikenal sebagai salah satu produsen sapi nasional. Setiap tahunnya tidak kurang 50 sampai 80 ribu sapi keluar dari NTT memasok kebutuhan daging sapi di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Predikat sebagai salah satu gudang ternak nasional dengan sumbangan 10 persen dari total produksi sapi dalam negeri melekat padanya.
Sapi yang paling lazim diternakkan di NTT adalah jenis Sapi Bali. Bernama latin Bos sondaicus, Sapi Bali adalah sapi asli Indonesia hasil domestikasi banteng (Bibos javanicus) yang terbukti telah adaptif dan produktif hidup di habitat alam NTT yang cenderung kering. Basis populasi utamanya berada di Pulau Timor, dengan populasi yang signifikan tersebar di kabupaten seperti Kupang dan Timor Tengah Selatan.
Namun, angka-angka tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan drastis dalam satu dekade terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencantumkan NTT pada 2016 memiliki sapi potong sebanyak 984.508 ekor. Bandingkan dengan jumlah sapi potong tahun 2024 hanya sebanyak 593.636 ekor. Konsekuensinya adalah penurunan jumlah ternak yang dikirim keluar NTT untuk pemenuhan kebutuhan daging nasional. Pada semester pertama 2025 tercatat NTT hanya mengirim 44.171 ekor, jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Sementara Indonesia juga masih melakukan impor sapi sebanyak dua juta ekor hingga 2029 mendatang.
Ada banyak faktor penyebab turunnya produksi sapi nasional andalan di NTT ini. Mulai dari faktor iklim yang mempengaruhi pakan ternak, alih fungsi lahan, hingga kebijakan tata niaga yang ada. Ini ditambah kondisi lebih dari 90 persen sapi berasal dari para peternak lokal berskala kecil. Alhasil sejumlah faktor cara pemeliharaan termasuk sumber pakan menjadi bergantung 100 persen pada kondisi alam, minim alternatif dan inovasi.
“Sapi-sapi Bali yang dipelihara di peternakan rakyat hanya bertambah sekitar 0,4 kilogram per hari,” ujar ahli Fisiologi dan Nutrisi Ternak ini.
Dengan pertumbuhan seperti itu, peternak biasanya membutuhkan delapan hingga 12 bulan sebelum sapi siap dijual. Tentu bagi keluarga peternak kecil, waktu selama itu berarti perputaran ekonomi yang sangat lambat.
Inovasi Sumber Pakan Baru Berbasis Lokal
Solusi yang dikembangkan tim peneliti ternyata berakar dari tanaman yang sangat akrab bagi masyarakat Timor, yaitu pohon gewang. Gewang (Corypha utan) adalah sejenis palma besar yang tumbuh luas di Nusa Tenggara Timur khususnya Pulau Timor. Ia telah lama menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat setempat. Hampir seluruh bagian pohon ini dapat dimanfaatkan mulai dari daun untuk atap rumah, batang untuk bahan bangunan, hingga nira dan pati untuk pangan.
Di bagian dalam batang gewang terdapat empulur yang kaya pati. Empulur inilah yang dikenal masyarakat sebagai putak. Putak telah lama digunakan sebagai bahan pangan alternatif maupun pakan ternak di Timor. Secara tradisional, masyarakat membelah batang gewang dan mengambil empulurnya untuk dikeringkan atau diolah menjadi tepung atau sagu.
Pohon gewang sendiri tumbuh cukup masif di Kupang sehingga tidak ada pembudidaya secara khusus, bahkan dianggap gulma oleh sebagian masyarakat yang merasa terganggu akibat pertumbuhannya yang liar. Pohon gewang bisa mencapai umur maksimal sampai 40 tahun dan selama ini kurang dimanfaatkan secara maksimal.
“Inovasi kami membuat pakan konsentrat kaya pati, sumber energi berbasis putak,” tutur Cardial. “Putak itu adalah sagu yang kita ambil dari pohon gewang, yang kemudian kita campur dengan bahan-bahan lokal lain. Bahan konsentrat ini mencapai 96% bahan lokal yang kita bisa ambil dari NTT.”
Tepung putak kemudian diolah dengan mencampurkan beberapa bahan salah satunya jagung dan kemudian dilakukan sederet proses pengolahan hingga menjadi pakan sapi yang siap disajikan. Semuanya dilakukan di laboratorium dan tempat pengolahan di Poltani Kupang.
Produksi konsentrat pakan sapi berbasis putak ini juga akan menaikkan nilai ekonomi dari pohon gewang itu sendiri. Menurut Cardial, satu pohon gewang bisa diambil putaknya antara 280 sampai 500 kilogram. Apabila dijual tiga ribu rupiah per kilonya, maka kalkulasi potensinya bisa 900 ribu sampai 1,5 juta rupiah per pohon.
Harapan Baru bagi Peternak, Meningkatkan Taraf Ekonomi
Okto Amnifu sudah akrab mengurus sapi sejak 2004 mewarisi dari orang tuanya. Ia adalah Ketua Kelompok Tani Ternak Nekmates di Desa Merbaun, sebuah desa yang dikenal sebagai salah satu pusat penggemukan sapi di Kabupaten Kupang. Okto menyebut rata-rata per kepala keluarga hanya mampu mengurus empat sampai lima ekor sapi saja.
Seperti kebanyakan peternak di NTT, Okto dan anggota kelompoknya selama bertahun-tahun mengandalkan cara pemeliharaan tradisional. Sapi-sapi mereka diberi pakan hijauan terutama daun lamtoro yang memang banyak tumbuh di wilayah tersebut.
Semuanya berubah ketika para peternak di Merbaun berjumpa dengan tim peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Mereka mengenalkan pakan konsentrat berbasis putak buatannya.
“Kami melakukannya bersama di tempat kami, dari bulan Mei sampai Agustus 2025,” kata Okto.
Selama periode itu, sapi-sapi mereka diberi tambahan pakan konsentrat berbahan dasar putak selain tetap memberi lamtoro. Hasilnya langsung terlihat. Pada periode pertama saja, kelompok mereka sudah berhasil menjual sapi dengan keuntungan yang meningkat.
“Pendapatan petani bisa mencapai sekitar 2,3 juta rupiah per tiga bulan untuk satu ekor sapi,” ujarnya.
Bagi peternak kecil, percepatan siklus ini berarti perputaran ekonomi keluarga yang jauh lebih baik. Para peternak yang dulu menunggu hampir setahun untuk menjual sapi kini dapat mempersingkat waktu penggemukan. Pendapatan meningkat, dan kepercayaan diri peternak pun ikut tumbuh.
“Mari kita manfaatkan pakan konsentrat berbahan dasar putak ini untuk ternak kita, sehingga bobot sapi bisa meningkat dan petani bisa sejahtera,” ajak Okto kepada seluruh peternak sapi di NTT.
Riset tentang pakan ternak bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Cardial telah menekuni bidang nutrisi dan ilmu pakan ternak hampir sepanjang karier akademiknya. Lulusan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana ini mulai menjadi dosen di Politeknik Pertanian Negeri Kupang sejak 2006.
Ketertarikannya pada nutrisi ternak terus ia dalami hingga jenjang pascasarjana di Australia. Ia meraih gelar magister bidang Animal Science dari James Cook University pada 2013 melalui beasiswa John Allwright Fellowship dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), sebelum kemudian menyelesaikan doktoralnya di University of Queensland pada 2023.
Selama hampir dua dekade mengajar dan meneliti, fokus Cardial konsisten pada upaya mencari sumber pakan yang efisien dan sesuai dengan kondisi lokal dengan iklim yang kering.
Cardial turut berterima kasih atas bantuan dari kelompok tani Nekmates sebagai pionir implementasi, serta mahasiswa yang “tidak kenal pagi siang malam” mengambil data di lapangan.
Riset pakan konsentrat berbasis putak ini berjalan melalui Program Berdikari yang digagas Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) dan didanai oleh LPDP. Tim peneliti dari Poltani Kupang yang dipimpin Cardial adalah salah satu dari sekian kampus vokasi yang mendapatkan hibah pendanaan.
“Lewat pendanaan LPDP ini, ini adalah pendanaan yang paling besar yang pernah kami dapat. Kami dapat Rp350.000.000, dan ini membuka ruang bagi kami untuk bisa melakukan penelitian langsung on-farm di masyarakat, bukan lagi di lab,” ujar Cardial.
Pendanaan tersebut memungkinkan keterlibatan lebih banyak ternak, lebih banyak mitra, dan skala penelitian yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh timnya.
“Kalau tidak ada pendanaan ini maka hasil yang kita dapat ini mungkin tidak akan kita dapat. Tanpa LPDP tentu capaian ini masih akan sangat jauh, bahkan mungkin tidak akan pernah kami capai.” tambahnya lagi.
Di sinilah LPDP tidak sekadar menjadi penyedia dana, tetapi katalis yang menjembatani ilmu dan kebutuhan solusi nyata bagi masyarakat lokal.
Penelitian ini dipastikan tidak berhenti di sini. Cardial melihat masih banyak persoalan lain yang perlu dijawab, termasuk bagaimana mengurangi penyusutan bobot sapi selama proses pengiriman antarpulau sehingga bobotnya tetap optimal dan nilai ekonomi tidak menyusut drastis.



