Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Risprostory

Butimo, Melestarikan dan Memajukan Batik Tulis dengan Sentuhan Teknologi 4.0

Penulis
Tony Firman
Jumat,
11 Agustus 2023

Batik adalah seni tradisional turun temurun nenek moyang. Di balik tiap goresan dan corak yang dibuat, tersimpan cerita yang membingkai warisan kehidupan. Bisa dibilang batik merupakan identitas seni Indonesia yang paling ikonik. Hampir tiap suku bangsa di pelosok nusantara memiliki corak identitas batiknya sendiri. Tak heran apabila UNESCO mengakui batik sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda sejak 2009 silam.

Zaman terus bergerak dan menuntut serba cepat telah menggeser cara produksi batik. Kegiatan membatik secara manual menjadi pekerjaan yang terlihat sangat menjemukan karena memakan waktu yang lama. Ditambah dengan kemunculan batik printing yang jauh lebih cepat dan instan semakin membuat batik tulis mengalami krisis regenerasi. Padahal, yang dikenal otentik dari batik adalah proses batik tulis dengan tangan karena membutuhkan ketelatenan dan keterampilan karena menghasilkan nilai seni tinggi.

Inilah yang mendorong Andi Sudiarso dari Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk ingin melestarikan warisan batik tulis sekaligus mencoba menjawab tantangan otomatisasi yang sedang terjadi. Andi bersama timnya kemudian melakukan riset untuk memasukkan unsur teknologi dalam produksi batik tulis. Dari riset yang berjalan, terciptalah mesin batik tulis yang dinamai Butimo. Mesin ini mampu membantu proses awal pembuatan motif batik sebelum ke tahap pewarnaan. Hanya proses membatik tahap pertama saja yang dibantu oleh teknologi.

Tahap pertama dalam membatik adalah menggambar motif di kain di kertas terlebih dahulu. Dari kertas lalu dijiplak di kain dan kemudian pemberian pola dari bahan malam yang dipanaskan atau dikenal dengan mencanting. Hasil mencanting menggunakan lilin panas (malam) ini disebut dengan klowong. Keseluruhan proses inilah yang dipermudah dengan otomatisasi teknologi menggunakan mesin batik Butimo.

Mesin batik Butimo yang berbasis CNC (Computer Numeric Control) ini mampu menggantikan proses penggambaran di kertas, penjiplakan gambar pola di kain, dan proses mencanting dengan malam yang biasanya butuh waktu lama itu. Sebentang kain terhampar di frame dengan ukuran yang bisa disesuaikan. Lalu terdapat canting ber-nozzle yang sekaligus sanggup memanaskan malam dan kemudian bergerak di atas kain dengan mengikuti pola yang sudah diperintahkan melalui komputer. Secara waktu pengerjaan di tahap awal ini tentu dapat sangat dipangkas. Apabila biasanya keseluruhan tahap pertama ini butuh waktu satu minggu, maka dengan mesin Butimo ini bisa selesai dalam waktu satu atau dua hari saja.

“Teknologi ini tidak digunakan untuk menggantikan keseluruhan proses, tapi kita kolaborasikan dengan pengrajin manual sehingga yang ada nanti proses diawali dengan menggunakan teknologi dan setelah itu fencing-nya dan proses pewarnaannya kami pertahankan dengan manual. Sehingga disitu ada kolaborasi antara teknologi dan budaya” ujar dosen Teknik Mesin UGM ini saat memamerkan karya risetnya di LPDP Fest 2023.

Riset mesin batik tulis Butimo sejatinya telah berawal cukup lama. Sekitar sewindu lalu, ide ini telah dikembangkan melewati beberapa prototype dan pemutakhiran. Baru sekitar tahun 2019, mesin batik Butimo akhirnya menemukan formulasi. Andi berpikir bahwa mesin temuannya ini perlu dikenal dan dipakai oleh masyarakat guna membantu proses produksi batik tulis.

Usaha komersialisasi mesin batik Butimo akhirnya mendapat pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) RISPRO Kompetisi dengan proposal riset berjudul “Mesin Batik Tulis Portabel dengan Modul mesin Berjalan untuk Meminimalkan Biaya Produksi Menuju Batik 4.0”

Ada banyak sekali hal yang dikerjakan Andi beserta timnya dari UGM dengan pendanaan RISPRO Komersial ini. Kerja-kerja seperti pengujian keandalan mesin dan hasil produk, publikasi riset, hingga mematenkan alat dan mesin.

“Dalam perkembangan RISPRO Komersial ini, kami sudah membuat sekitar enam varian mesin, mulai dari mesin satu frame, mesin satu canting, hingga mesin ber-frame dua atau ganda dan dua canting dalam satu mesin.” ujar Andi.

Butimo sendiri sekaligus nama usaha industri batik yang terletak di Dusun Kabrokan Wetan RT 01, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajang, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdiri sejak 18 Juli 2016, industri rumahan ini bisa memproduksi 100 batik tulis tekno per bulannya dengan mesin Butimo tadi. Jadi, Butimo menjual berbagai produk batik mulai dari kain, pakaian, tas, sepatu, termasuk tentunya mesin batik Butimo seharga Rp 150 jutaan.

Membantu Menghidupkan UMKM Batik

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan daya saing, kapasitas dan kualitas pelaku industri batik guna terus meningkatkan nilai ekspor. Bila menengok nilai ekspor batik Indonesia, angkanya memang masih tergolong tinggi dan menjanjikan. 

Data sepanjang tahun 2022 menunjukkan nilai ekspor batik serta produk turunannya menembus angka US$ 64,56 juta. Sedangkan periode Januari hingga April 2023 nilai ekspor batik dan produk batik telah menyentuh angka US$ 26,7 juta.

Klaim dan nawaitu Andi terkait kebermanfaatan mesin batik Butimo agar pakem batik tulis mampu terus bersaing setidaknya cukup beralasan. Namun, memperkenalkan mesin batik Butimo kepada kalangan pembatik tulis juga diakui Andi memunculkan pro kontra. 

Doktor lulusan University of Manchester ini terus menekankan bahwa kehadiran mesin batik tulis Butimo tidak untuk menggantikan proses keseluruhan pembatikan manual, melainkan justru untuk meningkatkan kualitas dan proses produksi sambil tetap menjaga pakem batik tulis agar tidak kalah dengan batik printing.

Butimo sendiri telah membuka opsi kolaborasi tanpa harus perlu membeli alatnya. Caranya dengan membuka jasa pembuatan motif batik menggunakan mesin Butimo. Tentunya para UKM dapat menentukan sendiri motif batik yang diinginkan baik yang berasal dari mereka maupun yang minta dibuatkan oleh Butimo.

“UKM biasanya mengirimkan kain ke Butimo. Kami hanya melakukan proses klowong, kemudian finishing-nya akan dilakukan oleh masing-masing UKM. Nah, dengan cara seperti itu, diharapkan proses membatik bisa lebih cepat. Kemudian biayanya juga lebih murah sehingga batik semakin kompetitif di pasaran.” ungkap Andi.

Tidak hanya UKM, Butimo sedang mengembangkan layanan Batik 4.0 yang memungkinkan customer mengirimkan desain dan memilih warna batik sendiri. Cukup dengan mengakses situs Butimo dan memilih pada layanan desain serta melakun pembayaran, batik tulis yang dirancang sendiri dapat diantrekan untuk dibuat hingga selesai menjadi produk siap pakai.

Merasakan Manfaat RISPRO Komersial

Andi Sudiarso selaku ketua tim peneliti mesin batik Butimo merasakan betul manfaat pendanaan RISPRO Komersial LPDP. Dengan total dana yang diberikan mencapai Rp 2.569 milyar selama tiga tahun, ia menjadi leluasa dan optimal dalam mengembangkan berbagai varian mesin batik hingga rencana pengembangan produk Batik 4.0.

“Jadi kami berterima kasih kepada RISPRO Komersial LPDP. Karena dengan mendapatkan dana RISPRO ini, kami bisa mengembangkan berbagai varian mesin batik. Kalau dulunya kami hanya punya satu varian, satu canting dan satu frame, sekarang variannya sudah ada yang dua cantik, ada yang dua frame, bahkan ada satu mesin itu, sekali melakukan proses pembatikan, langsung menghasilkan dua kain secara bersamaan. Nah, ini dari sisi teknologi. Kemudian ke depannya, di tahun ketiga, kami akan mengembangkannya ke Batik 4.0” jelas Andi.

Saat ini tercatat sudah ada 170 UKM yang berkolaborasi dengan Butimo untuk mengerjakan proses tahap awal batik tulis. Mesin Butimo sendiri juga sudah terjual sebanyak delapan buah yang tersebar di berbagai daerah seperti Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Yogyakarta, Solo, Banyumas, Semarang dan lainnya. Butimo telah dipamerkan di banyak expo dalam dan luar negeri antara Ritech Expo 2019, Hannover Messe 2023, dan tentunya LPDP Fest 2023.

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua