Kereta api merupakan moda transportasi massal tertua di Indonesia. Daya angkut yang besar, menghubungkan antar kota antar provinsi, dan memiliki jalurnya sendiri membuat kereta api menjadi salah satu moda transportasi darat favorit.
Jalur kereta api pertama dibuka pada era kolonial Hindia Belanda yang menghubungkan antara Semarang - Vorstenlanden (Solo - Yogyakarta) pada 1867. Kecepatan boleh dibilang merupakan daya tarik paling utama sejak kereta api hadir di tengah-tengah masyarakat nusantara
Dalam pembuka novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, tokoh Minke mengungkapkan kekagumannya atas teknologi transportasi kereta api pada akhir abad ke-19. Betapa jarak antara Jakarta - Surabaya bisa ditempuh hanya dalam waktu sehari semalam saja. Sebelumnya, butuh waktu sampai tiga hari bila menggunakan moda transportasi lainnya. Kini, lebih dari 100 tahun berlalu, Jakarta - Surabaya bakal bisa ditempuh kurang dari 4 jam saja.
Geliat kereta api melintasi zaman kolonial hingga kemerdekaan masih terus berjalan dan bisa dinikmati hingga kini. Teknologi kereta api juga terus berlangsung. Kereta cepat menjadi saat ini menjadi capaian perkembangan perkeretaapian negara-negara maju. Anak bangsa tak mau ketinggalan dalam upaya menghadirkan teknologi kereta cepat. Proyek panjang bernama Kereta Cepat Merah Putih sedang digarap, salah satunya menghubungkan rute Jakarta - Surabaya.
Sebenarnya keberadaan kereta diesel yang selama ini beroperasi menghubungkan kedua kota besar ini sudah mengalami peningkatan kecepatan dari masa ke masa, mulai dari membutuhkan waktu 13 jam hingga meningkat menjadi 8,5 jam saja. Namun, Kereta Cepat Merah Putih menawarkan waktu yang lebih singkat, Jakarta - Surabaya dapat ditempuh dengan waktu 3 jam 40 menit.
Adalah Dr. Agus Windharto, DEA yang merupakan kepala riset yang mendapatkan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Riset Inovatif Produktif (RISPRO) Kompetisi. Penelitian yang didanai selama tiga tahun ini berfokus pada rancang bangunan eksterior dan interior dari Kereta Cepat Indonesia. Riset terhadap rancang bangunan dan prototype Kereta Cepat Merah Putih Jakarta - Surabaya dilakukan oleh tim peneliti dari Departemen Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).
“Di dalam tim kami, saya selaku peneliti utama yang bertugas melakukan rancang bangunan eksterior dan interior carbody (badan kereta) dari Kereta Cepat Indonesia. Jadi, lingkup pekerjaan kami adalah carbody, yaitu mulai dari ujung depan sampai ujung belakang, bagian luar dan bagian dalam.” ujar Agus Windharto saat ditemui di booth pameran riset LPDP Fest 2023.
Dari segi teknologi, rancang bangunan yang dikerjakan Agus Windharto ini mampu menunjang kecepatan kereta. Dengan rancang badan buatannya, Kereta Cepat Merah Putih mampu digeber maksimal hingga 250 km per jam dengan operasionalnya di angka 200 sampai 200 km per jam. Tak heran Jakarta Surabaya bisa ditempuh kurang dari lima jam.
Perbedaan berat gerbong cukup signifikan. Bila berat satu gerbong kereta konvensional dengan 50 penumpang kelas eksekutif mencapai 50 sampai 60 ton, maka gerbong kereta cepat yang didesain Agus Windharto ini hanya 40 sampai 45 ton saja karena berbasis Extruded Aluminium Alloy 6061.
Meski memakai bahan alumunium bukan stainless steel dan berbobot lebih ringan bukan berarti menurunkan kualitas dan mengabaikan keselamatan. Semuanya telah dirancang dan dihitung sedemikian rupa dengan berbasis empat aspek wajib yang melekat, yaitu reliability, availability, maintainability, dan safety (RAMS).
Lingkup riset lain yang dilakukan Desain Produk Industri ITS untuk kereta cepat ini termasuk desain envelope cabin dan kokpit, studi human factors engineering and ergonomics, pengujian aerodinamis, serta perancangan dan pengujian struktur carbody. Hasil riset ini selain menghasilkan prototipe desain eksterior dan interior kereta cepat, juga termasuk data analisis engineering CFD dan FEA, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan animasi 3D kereta cepat.
Agus Windharto sendiri optimis produk rancangannya tidak kalah dengan negara-negara maju yang sudah identik dengan kereta cepat seperti Jepang, Prancis, Jerman, lainnya. Sosok yang juga mendesain LRT Jabodetabek ini berlatar pendidikan S2 dan S3 di Université de Technologie de Compiègne (UTC) Prancis. Tesisnya adalah tentang desain pesawat terbang dan sempat tergabung dalam industri pesawat Airbus.
Saat Prancis sedang mengembangkan kereta cepat TGV (Train à Grande Vitesse) itulah Agus turut menjalani beberapa internship dan menjadi pembuka ketertarikannya dengan dunia perkeretaapian. Dengan riwayat riset dan benchmarking ke pusat-pusat pengembangan kereta cepat dunia, ia pun optimis bisa mempersembahkan karya terbaik buatan anak bangsa.
Wujudkan Kereta Cepat Buatan Anak Bangsa
Menurut Agus Windharto, proyek kereta cepat memang sebuah “state of the art” dari teknologi kereta api. Puncak dari industri perkeretaapian adalah ketika bisa membuat dan merancang kereta api, terlebih dalam hal ini adalah teknologi kereta cepat.
“Jadi dengan kereta cepat ini akan terjadi akselerasi penguasaan teknologi ya. Baik di pihak perguruan tinggi, sebagai peneliti, dan juga ada BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) di sini yang juga bertindak sebagai mitra peneliti, lembaga riset dan pengujian, dan juga PT INKA sebagai manufaktur,” jelas dosen Desain Produk di Departemen Desain Produk Industri ITS ini.
Diharapkan masuknya era kereta cepat juga turut berdampak pada peningkatan riset produksi komponen dalam negeri dengan mengurangi impor. Agus menyebut bahwa inilah kesempatan bagi generasi berikutnya untuk melakukan riset di komponen-komponen sekitar kereta cepat. Prospeknya cukup menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan transportasi publik apabila Indonesia ingin mewujudkan mimpi menjadi negara maju.
“Jadi kesempatan riset strategis ini saya kira perlu dikembangkan terus kepada generasi muda. Para mahasiswa S1 sampai S3 dan juga anak-anak milenial untuk tertarik tidak hanya di bidang digital startup, tapi juga teknologi manufaktur, teknologi transportasi. Karena ini sangat dibutuhkan di negara kita yang kepulauan,” harap Agus.
Proyek pengerjaan Kereta Cepat Merah Putih ini bisa dibilang cukup prestisius dan kolosal. Digarap secara keroyokan menggandeng banyak pihak. Kebutuhan riset seperti mesin, kelistrikan, material, dan banyak lagi dilakukan secara kolaboratif dengan sejumlah perguruan tinggi Indonesia.
Riset rancang bangun dan prototyping Kereta Cepat Merah Putih telah melalui serangkaian tahap analisis dan uji digital yang siap dilanjutkan dengan proses produksi fisik. Biaya produksi untuk dua carbody kereta cepat ini diperkirakan tidak kurang dari 80 miliar rupiah. Adapun proses produksi kereta cepat dilakukan oleh PT INKA (Industri Kereta Api) yang bermarkas di Madiun, Jawa Timur. Kereta cepat ditargetkan rampung dibuat pada 2025 dan melalui uji coba sistem pada 2026.



