Setiap roda kendaraan bermotor yang menggelinding di jalanan pastinya dilengkapi rem sebagai peranti keselamatan. Seiring penggunaan, sepatu rem atau biasa disebut kampas rem akan menipis dan habis. Apabila kampas rem tidak diganti, tentunya akan membahayakan keselamatan pengendara. Oleh karena itu, kampas rem menjadi salah satu komponen otomotif dengan pangsa pasar yang besar.
PT. Akebono Brake Astra Indonesia (AAIJ) merupakan perusahaan pembuat kampas rem terbesar di Indonesia. Perusahaan joint venture antara Indonesia – Jepang ini menguasai market kampas rem nasional sebesar 70 persen dan dua persen di dunia.
Namun, Agustinus Winarno, dosen Teknik Mesin di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat dibuat syok saat berkesempatan melihat pengujian kualitas kampas rem di PT AAIJ pada tahun 2019. Pasalnya, perusahaan ini masih mengandalkan tenaga manusia sepenuhnya untuk menguji keretakan bahan kampas rem.
“Cukup syok juga ketika [pengetesan] masih menggunakan 100 persen tenaga manusia 24 jam di sana. Perusahaan ini mempunyai visi misi tentang Industri 4.0 di mana tentu perlu untuk mengubah cara bekerja yang perlu dukungan dari sebuah teknologi untuk mempermudah manusia dalam bekerja.” ujar pria yang akrap dipanggil Aguswin.
Sesuai standar Akebono global, kampas rem yang diedarkan ke pasar wajib lolos uji keretakan. Cara pengujian keretakan dalam kampas rem adalah dengan memukulnya menggunakan alat yang disebut ping test. Dalam hitungan 3 sampai 6 detik, para petugas atau inspektur ini harus memutuskan apakah kampas rem dalam kondisi baik atau ada keretakan berdasarkan suara dari pukulan.
Para inspektur ini telah mendapat pelatihan minimal enam bulan untuk membedakan bunyi keretakan dan kelayakan pada bahan kampas rem. Bahkan di tahap ahli, para inspektur pendengar perlu waktu hingga enam tahun agar telinganya menjadi sangat pekat.
Daniel Suryananta selaku Technical Director PT. Akebono Brake Astra Indonesia menjelaskan bahwa cara inspeksi kampas rem secara manual juga dilakukan di mitra rekanan global lainnya. “Di Jepang di Amerika di China Thailand maupun di Eropa, kampas rem itu akan selalu dicek dengan indera manusia.” ujarnya.
Aguswin merasa tertantang untuk mencari solusi dari proses pengujian keretakan kampas rem yang masih sepenuhnya menggunakan tenaga manusia. Menurutnya, alur kerja manual seperti memukul kampas rem, mendengarkan, dan menganalisis karakter bunyi pukulan bisa dilakukan dengan bantuan teknologi artificial intelligence (AI).
Hadirkan Teknologi AI
Teknologi inspeksi kampas rem seperti menggunakan mesin dan kombinasi kecerdasan buatan diakui masih menjadi tantangan tidak hanya di PT AAIJ tetapi juga grup Akebono global. Selama ini, PT AAIJ masih berfokus pada keselerasan kualitas produk mengikuti research and development dari Jepang.
Sejak 2019, Aguswin terus mempelajari cara kerja pengujian kampas rem yang dilakukan oleh teknisi manusia. Ia mengamati video gerakan tangan inspektur saat memukul bahan kampas termasuk bunyi yang dihasilkan. Dari pola yang dipetakan, Aguswin membuat prototyping menggunakan 3D printer untuk mendemonstrasikan pemukulan kampas rem agar memastikan konsep dasar pengujian bekerja dengan baik. Pihak Akebono pun membantu dengan meminjamkan alat ping test dan mengirimkan bahan kampas rem yang bagus dan rusak.
Dalam perjalanannya, Aguswin sempat terkendala pendanaan karena keraguan industri untuk berinvestasi dalam rencana riset dan penciptaan produk. Sampai akhirnya pada 2021, riset Aguswin mendapat pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program riset keilmuan terapan Mitras DUDI (Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri) di bawah Kemedikbudristek.
Teknologi artificial intelligence (AI) pun dipakai Aguswin untuk meningkatkan kinerja di sisi perangkat lunak. Pengujian peranti keras dan lunak bahkan melibatkan Politeknik ATMI Surakarta. Melalui serangkaian uji coba dengan tingkat kerumitan dan kesalahan yang minim, alat ini mencapai tingkat kesiapan teknologi (TKT) level empat alias bisa bisa dikembangkan oleh industri.
“Proses pengujian dari kampas rem yang dilakukan 24 jam sangat tergantung dari kondisi manusia. Dengan adanya mesin di sini, tentu akan meningkatkan efisiensi. Karena cycle time bisa kita atur, ataupun proses ini akan menjadi stabil.” papar Aguswin.
Daniel Suryananta mengaku belum pernah menemukan alat pengujian kelayaka seperti ini karena selama ini mengandalkan tenaga terampil manusia. “Kalau alat ini berhasil menurut saya akan berdaya guna dan menguntungkan” ujarnya. Disebut menguntungkan karena apabila berhasil menjadi mesin industri, alat buatan anak bangsa ini bisa diekspor ke grup Akebono global dan juga untuk industry manufaktur lainnya.
Sampai saat ini alat pengujian keretakan kampas rem masih terus disempurnakan. Pada awal Februari 2023, Aguswin mendemonstrasikan alatnya di pabrik PT. AAIJ yang berlokasi di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tampak pula hadir Direktur dan teknisi PT AAIJ selama proses penjelasan dan uji coba.
Aguswin merasa sangat terbantu dengan pendanaan LPDP melalui program riset keilmuan terapan. “Kami berterima kasih karena di sini targetnya bukan hanya masalah paper, tapi masalah bagaimana kami bisa memberikan produk solusi kepada di industri.” ucap pria yang meraih doktor di The University of Tokyo.



