Gedung Danadyaksa Cikini, Jl. Cikini Raya No.91A-D, Menteng, Jakarta Pusat
Call Center 134, +62-21-23507011
Festival Riung Gunung di Bandung
Risprostory

Merayakan Kekayaan Rempah Nusantara, Melestarikannya untuk Masa Depan

Penulis
Tony Firman
Selasa,
25 Maret 2025

Sejak zaman dahulu, tanah Nusantara telah menjadi surga bagi para pedagang yang memburu harta karun berharga dari bumi tropisnya: rempah-rempah. Aroma harum cengkeh, kayu manis, pala, dan berbagai tanaman herbal lainnya telah memikat banyak bangsa dari seberang lautan. Keistimewaan ini tidak hanya mendatangkan peluang perdagangan, tetapi juga menjadi awal dari babak panjang penjajahan dan perebutan kuasa. Sejarah mencatat bagaimana bangsa-bangsa asing datang silih berganti, berjuang mati-matian demi menguasai perdagangan rempah, bahkan mengorbankan nyawa dan menciptakan penderitaan bagi penduduk lokal. Kini, ketika zaman telah berganti, ada tantangan lain yang mengintai: perlahan tapi pasti, kekayaan pengetahuan tentang rempah mulai tergerus oleh zaman. Jika tidak ada upaya nyata untuk melestarikannya, bukan tidak mungkin warisan berharga ini akan lenyap tanpa jejak.

Berdasarkan keresahan akan ancaman ini, Rumah Pemajuan Kebudayaan, sebuah organisasi yang berbasis di Bandung, menginisiasi sebuah perayaan budaya yang bertujuan untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap rempah Nusantara. Festival Riung Gunung Bandung pun lahir sebagai sebuah panggung untuk merayakan keanekaragaman budaya dan tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad. Festival ini diadakan pada tanggal 22-23 Februari 2025 kemarin di lokasi yang begitu ikonik: Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, sebuah kawasan alam yang menjadi saksi bisu bagaimana manusia dan alam dapat hidup berdampingan dalam harmoni.

Ada ungkapan "Bandung dilingkung ku gunung" yang mencerminkan kesadaran topografis masyarakat Bandung terhadap lingkungan mereka. Bandung Raya, yang terbentuk dari danau purba, patahan sesar, dan rangkaian gunung berapi, menawarkan tantangan sekaligus peluang. Tanah vulkanik yang subur mendukung keanekaragaman hayati, termasuk rempah-rempah yang memiliki nilai ekologis, ekonomi, dan budaya. Di berbagai penjuru Bandung, komunitas-komunitas lokal telah mengembangkan praktik pemanfaatan sumber daya alam yang selaras dengan kearifan tradisional.

Dinamika komunitas ini mencerminkan potensi besar bagi keberlanjutan ekosistem budaya dan alam Bandung Raya. Festival Riung Gunung Bandung 2025 hadir sebagai ruang perayaan dan kolaborasi untuk mengapresiasi upaya mereka, sekaligus memperkuat jaringan antar komunitas dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Ada semangat besar untuk menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi. Para pengunjung disuguhi berbagai program menarik yang menggambarkan betapa kayanya warisan budaya Indonesia, khususnya dalam praktik kuliner dan keberlanjutan komunitas di sekitar Bandung Raya. Salah satu daya tarik utama festival ini adalah Spice Market & Exhibition, sebuah pasar yang menampilkan berbagai produk berbasis rempah yang tidak hanya menggugah selera tetapi juga mengandung nilai historis dan filosofis yang dalam.

Selain pasar rempah, panggung seni juga menjadi elemen penting dalam festival ini. Musik dan pertunjukan seni dari berbagai seniman berbakat turut menyemarakkan suasana, di antaranya Bottlesmoker, Bisma Karisma, Jagat, Balaruna, serta Padepokan Wargi Budoyo dari Magelang. Mereka membawa nuansa tradisional yang dipadukan dengan sentuhan modern, menciptakan suasana yang akrab namun tetap sarat makna.

Namun, Festival Riung Gunung tidak hanya soal hiburan. Salah satu aspek terpenting dari acara ini adalah unsur edukatifnya. Berbagai sesi diskusi dan lokakarya digelar untuk memperdalam pemahaman tentang gastronomi, kesehatan herbal, serta praktik tradisional yang masih relevan hingga kini. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah talkshow bertajuk “Gastronomi Sunda” yang dipandu oleh Riadi Darwis, seorang pakar di bidang kuliner tradisional. Selain itu, ada pula diskusi menarik mengenai tanaman obat dalam sesi bertajuk “Kebun Herbal Tanaman Obat” yang dipandu oleh Mamah Oday, seorang praktisi herbal yang telah lama berkecimpung dalam dunia pengobatan tradisional.

Tak hanya bagi orang dewasa, festival ini juga memberikan ruang bagi anak-anak dan pelajar untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. Melalui berbagai lokakarya seperti eco-print, lomba permainan tradisional, hingga kompetisi menebak rempah, generasi muda diajak untuk mengenal lebih dalam tentang kekayaan hayati dan budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.

Tahun 2025, Festival Riung Gunung Bandung mengusung tema “Ramu Rempah Riung Gunung Bandung – Pasar Pasisian Leuweung” atau yang berarti "Pasar Pinggiran Hutan". Tema ini diangkat untuk menyoroti hubungan erat antara manusia dan alam, terutama dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Festival ini sendiri merupakan bagian dari program publik Rumah Pemajuan Kebudayaan yang bernaung di bawah Yayasan Jendela Ide Indonesia, dengan dukungan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI.

Menurut Andarmanik, Ketua Dewan Pembina Rumah Pemajuan Kebudayaan, Yayasan Jendela Ide mendapatkan dukungan dari Dana Indonesiana untuk fokus pada pendokumentasian pengetahuan dan teknologi tradisional. Hal ini menjadi sangat krusial karena pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun harus dijaga agar tetap relevan di era modern.

Dalam rangka memastikan kelangsungan proyek ini, Festival Riung Gunung Bandung mendapat suntikan dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan (DAKB). LPDP, sebagai lembaga di bawah Kementerian Keuangan, berperan dalam mengelola keuangan dan menyalurkan dana kepada berbagai inisiatif kebudayaan di Indonesia. Dana sebesar Rp1.004.543.157 telah dikucurkan kepada Yayasan Jendela Ide Indonesia dalam kategori Dukungan Institusional, dengan periode pendanaan yang berlangsung dari Oktober 2022 hingga September 2025.

Dana ini tidak hanya digunakan untuk penyelenggaraan festival semata, tetapi juga untuk mendokumentasikan pengetahuan dan teknologi tradisional yang berkaitan dengan rempah-rempah. Dengan adanya pendanaan ini, proses penelitian, dokumentasi, dan diseminasi informasi mengenai kekayaan hayati Nusantara dapat dilakukan secara lebih sistematis dan luas.

LPDP sendiri telah memulai program DAKB sejak tahun 2022 dengan target pengelolaan sebesar Rp5 triliun. Program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem seni budaya di Indonesia, dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek sebagai operator penyelenggaranya yang kemudian menamainya sebagai Dana Indonesiana. Dengan adanya pendanaan ini, berbagai komunitas dan individu di seluruh Indonesia dapat memperoleh dukungan untuk mengembangkan serta melestarikan warisan budaya mereka.

Festival Riung Gunung menjadi pengingat bahwa nilai-nilai tradisional tetap memiliki tempat penting. Bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas yang bisa terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan zaman. Rempah-rempah, yang dulu menjadi alasan bangsa-bangsa datang ke Nusantara, kini kembali mendapatkan tempat terhormat dalam perbincangan, bukan hanya sebagai bumbu dapur, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah, budaya, dan keberlanjutan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Berita Terkait

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Risprostory | 03-10-2025

Mayoritas Tanah Pertanian Indonesia Rusak, Guru Besar UMM Tawarkan Solusi Ampuh dan Menguntungkan

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Risprostory | 18-09-2025

Tumbuh Tanpa Rasa Takut, Ketika Anak Menyuarakan Lara Hati di Kids Biennale Indonesia 2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua

Risprostory | 07-08-2025

Mengubah Sinema, Merangkul Semua: Kisah Bioskop Berbisik dari Forum Sineas Banua