Halaman ini menampilkan kumpulan kisah inspiratif yang mengangkat kontribusi, kiprah, prestasi, dan kisah inspiratif lainnya dari para penerima beasiswa LPDP. Kisah inspiratif ini juga disampaikan melalui beragam kanal media sosial lpdp secara periodik dengan tagar #awardeestory

Malika Rizqi Anindita begitu mantap memilih studi S1 Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia juga tahu betul bagaimana dunia kerja lulusan tersebut banyak berkutat di lapangan dengan perhitungan konstruksi yang cermat serta presisi. Tetapi perempuan asal Bandung ini juga punya sesuatu yang beriring tumbuh dalam dirinya, yaitu kegemaran berjualan.
Setidaknya sejak SMP ia sudah akrab dengan aktivitas berjualan di sela kesibukan mengerjakan tugas. Kebiasaan itu dibawa sampai kuliah bahkan dengan intensitas yang lebih tinggi. Ada perasaan senang dan kepuasan dalam diri Malika dalam menjalani kegiatan belajar sebagai mahasiswi di Yogyakarta.
Kesadaran itu datang pada waktu yang saling beriringan. Di satu sisi, ia sedang menjalani pendidikan teknik yang menuntut ketelitian dan ketangguhan. Sisi lainnya ia mulai melihat dirinya tidak sepenuhnya berada di jalur yang sama dengan lulusan teknik sipil pada umumnya.
Memang benar perjalanan hidup menapaki dewasa lebih sering bergerak seperti aliran sungai. Ia tidak selalu mengikuti alur yang lurus. Kadang-kadang berbelok, dan menemukan jalan terbaiknya.
Sebagai anak yang tumbuh dengan sosok ibu seorang psikolog, Malika melihat bagaimana profesi ibunya memberi ruang fleksibilitas dalam kehidupan keluarga. Sang ibu dapat mengatur waktu kerja, menyesuaikan kebutuhan anak-anak, dan tetap menjalankan profesinya dengan baik.
Dirinya mulai melihat kembali dunia konstruksi yuang digeluti selama kuliah. Pandangan mulai berbeda. Banyak pekerjaan menuntut perpindahan kota, keterikatan dengan proyek, dan dinamika lain yang mungkin sulit diprediksi. Malika kemudian mulai bertanya pada dirinya sendiri, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin ia bangun untuk masa depannya sendiri?
Proses mengenali diri dan potensi lebih dalam itu terus terjadi, dan seperti banyak keputusan penting dalam hidup, jawabannya datang perlahan. Minat terbesarnya mungkin bukan pada bangunan yang menjulang, membangun usaha ternyata tidak kalah membutuhkan ketelitian, perhitungan, dan terstruktur.
Mengasah Pendidikan Bisnis dengan Beasiswa LPDP
Bisnis menjadi dunia yang langsung ingin ia tekuni dan jalan itu salah satunya dengan melanjutkan pendidikan bisnis. Malika mulai mencari-cari beasiswa pada 2014 dan kala itu informasi tentang LPDP belum semudah sekarang ditemukan di media sosial. Ia mengenalnya dari cerita para senior yang lebih dulu berangkat studi ke luar negeri, mempelajari, mendaftar, dan benar berhasil mendapatkan studi magister program Entrepreneurship and Innovation di University of Edinburgh, Skotlandia pada 2015.
Tidak salah Malika memilih Edinburgh. Di sana menawarkan pendekatan belajar yang menurutnya memenuhi ekspektasinya. Hari-hari belajar di Skotlandia terasa sangat bernilai. Banyak materi yang ia butuhkan dapat terjawab di sana. Jika selama bertahun-tahun ia terbiasa menyelesaikan persoalan dengan angka dan rumus, pendidikan bisnis di Inggris menuntut sesuatu yang berbeda, yaitu berpikir kritis.
“Kalau di UK itu lebih ke critical thinking, banyak esai-esai. Sedangkan saya sebelumnya di teknik sipil benar-benar eksak, menghitung dengan rumus. Kalau bisnis tidak seperti itu. Jadi metode pembelajarannya berbeda,” tutur Malika.
Di sana, jawaban tidak selalu tentang benar atau salah. Mahasiswa dituntut mengembangkan argumen, menulis esai, mempertahankan analisis, dan membangun sudut pandang. Ia belajar melihat persoalan dari berbagai sisi. Ia memahami bahwa bisnis bukan sekadar menjual produk, melainkan memahami manusia.
Sebagai perempuan Muslim berhijab yang tinggal di negara asing, Malika menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat dalam brosur kampus. Identitasnya langsung tampak sejak pertama kali orang melihatnya. Sesekali ia mendapat tatapan yang terasa berbeda dari orang-orang di luar lingkungan akademik.
Namun pengalaman seperti itu masih mudah untuk dihempaskan Malika. Ia tidak mengambil pusing dan justru menjadi batu loncatan untuk terus bertumbuh melakukan hal-hal yang lebih jelas kebermanfaatannya. Pengalaman menyenangkannya selama studi di Skotlandia masih lebih besar dari masalah kerikil seperti itu.
Pulang dan Melahirkan Yourkalle
Malika memang tidak langsung pulang selepas menyelesaikan studi. Magang singkat selama tiga bulan di sebuah startup di Inggris menjadi pengalaman pertama menjajal dunia profesional di luar negeri. Kurikulum di kampusnya memang memberi kesempatan mahasiswa terjun langsung ke dunia usaha.
“Programnya (Edinburgh) ada magang langsung di perusahaan dan kita juga bisa menjadi konsultan untuk startup yang masih berkembang di UK. Itu menurut saya program yang sangat menarik,” katanya.
Sepulang ke tanah air, cerita dimulai saat bertemu dengan sahabat lamanya sejak bangku SMP. Dari percakapan-percakapan sederhana, lahirlah gagasan membangun sebuah merek tas lokal bernama Yourkalle.
Pilihan produknya bukan tanpa alasan. Pengalaman sebagai reseller tas sejak masa kuliah memberinya perspektif yang unik tentang pasar. Ia melihat bahwa tas laptop dan tas kerja saat itu banyak dirancang untuk laki-laki. Pilihan untuk pelajar dan mahasiswa juga melimpah. Namun perempuan profesional memiliki pilihan yang jauh lebih terbatas.
“Saya melihat ada gap. Tas laptop sudah banyak untuk laki-laki, banyak untuk anak-anak kuliahan, tapi saat itu untuk wanita karier belum ada. Jadi saya melihat ada gap itu, lalu memutuskan untuk membangun Yourkalle,” ujarnya.
Ada celah yang belum banyak diisi. Dari pengamatan sederhana itulah lahir sebuah ide bisnis. Mengembangkan tas kerja yang tetap stylish, fungsional, dan sesuai dengan kebutuhan perempuan modern.
Membangun usaha dari nol ternyata jauh lebih sulit dibandingkan menemukan idenya. Malika dan tim harus berkeliling mencari penjahit yang mampu menghasilkan kualitas sesuai standar yang mereka inginkan.
“Kita sampai blusukan ke gang-gang di Bandung. Karena ternyata mencari penjahit yang benar-benar bagus itu cukup sulit,” kata Malika sambil tertawa mengenang masa-masa awal tersebut.
Mereka tidak ingin sekadar membuat tas. Mereka ingin menciptakan produk lokal yang kuat dari segi fungsi sekaligus menarik secara estetika. Dari situlah lahir filosofi yang hingga kini menjadi identitas Yourkalle: Monday to Sunday, Work to Play.
“Kita pengen bikin tas yang memang bisa dipakai dari Senin sampai Minggu. Mulai dari kerja sampai main-main itu masih cukup stylish. Secara look bagus, tapi functional juga.”
Salah satu produk unggulannya bahkan dapat berubah fungsi dari tote bag menjadi backpack dengan tali yang bisa disembunyikan. Detail-detail seperti itulah yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pelanggan.
Ia mengingat salah satu pelajaran paling berharga yang didapat ketika mendampingi startup di Inggris: pentingnya mengenali pelanggan secara rinci.
“Cara marketingnya itu dia benar-benar mencari tahu siapa market-nya. Profiling sampai detail. Dan itu yang saya berusaha terapkan di Yourkalle,” ujarnya.
Pelaku lokal selalu ada dalam kerangka bisnis pikirannya. Material utama dari Indonesia. Penjahit juga 100 persen lokal. Dustbag diambil dari UMKM di Bandung. Packaging juga sepenuhnya lokal.
Produk Yourkalle sendiri tersedia di e-commerce dan telah terjual ribuan.
Terlibat Pemberdayaan Perempuan
Ilmu dan pengalaman Malika turut disebar kebermanfaatnya kepada kelompok perempuan. ia membantu menyusun modul dan memberikan pelatihan bagi ibu-ibu di Desa Cililin yang tergabung dalam Digital Mama agar mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha mereka.
Kami membuat modul dan juga melakukan pelatihan. Karena kadang ibu-ibu masih bingung harus mulai dari mana ketika masuk ke dunia digital,” jelasnya.
Ada kesempatan yang perlu dibuka agar semakin banyak perempuan memiliki akses yang sama terhadap perkembangan ekonomi digital. Salah satu manfaat terbesar pendidikan formal adalah pengetahuan dan struktur berpikir. Pandangan itulah yang membuatnya tetap meyakini pentingnya pendidikan, terutama bagi perempuan.
“Semakin tinggi pendidikan perempuan itu dapat mensejahterakan keluarga, meningkatkan perekonomian juga.” tuturnya.
Sudah hampir satu dekade Malika mendapat Beasiswa LPDP. Kontribusinya mungkin tidak hadir dalam bentuk proyek infrastruktur raksasa. Ia hadir menghidupi mimpi dan sekaligus menunjukkan kinerja berdampak. Sebuah merek lokal yang tumbuh, lapangan pekerjaan yang terbuka, jaringan UMKM yang bergerak, serta perempuan-perempuan yang mendapatkan pengetahuan baru untuk mengembangkan usahanya.


Nikmati berbagai konten menarik dan pengumuman terbaru dari LPDP langsung di inbox kamu.












































