This page features a collection of inspiring stories that highlight contributions, journeys, achievements, and other inspiring stories from LPDP scholarship recipients. This inspiring story is also conveyed through various lpdp social media channels periodically with the hashtag #awardeestory

Bayangkan sejenak hidup tanpa penglihatan, tanpa warna yang memberi makna pada pagi dan senja, tanpa cahaya yang menuntun langkah, tanpa kemampuan membaca wajah, arah, dan dunia di sekitar kita. Apa yang selama ini terasa begitu biasa seperti melihat, mengenali, menavigasi sebenarnya adalah nikmat besar yang kerap luput kita sadari.
Namun, nyatanya tidak semua orang lahir dengan anugerah yang sama. Bagi Arif Prasetyo, dunia hadir tanpa rupa sejak awal. Ia tumbuh dalam keluarga dengan kondisi serupa—ayah dan ibunya penyandang disabilitas netra, begitu pula sebagian saudara kandungnya. Di sudut Ngawen, dalam pelukan keterbatasan ekonomi dan akses, Arif mengenal kehidupan yang menuntutnya untuk kuat bahkan sebelum ia benar-benar memahami arti perjuangan itu sendiri.
Dari ruang yang sunyi dari cahaya itulah, kisah Arif dimulai, sebuah perjalanan tentang bagaimana keterbatasan tak selalu menjadi akhir, melainkan titik awal untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Dibesarkan dalam Keterbatasan, Ditempa oleh Penolakan
Tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan yang berlapis, Arif mengenal kerasnya hidup sejak dini. Ayahnya menggantungkan hidup sebagai pengamen, menjual suara di sepanjang Malioboro, sementara ibunya bekerja sebagai tukang pijat. Seiring waktu, keduanya harus menjalani hidup secara terpisah, menambah kompleksitas perjalanan keluarga ini. Kondisi biologis yang diwariskan membuat sebagian saudara Arif—kakak dan adiknya—juga mengalami disabilitas netra. Hanya satu adiknya yang terlahir tanpa kondisi tersebut, yang kini bekerja sebagai penjaga toko emas di Wonosari. Dalam keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga yang tidak mudah, mereka tetap berusaha bertahan, masing-masing dengan caranya sendiri.
Masa kecil Arif pun tak lepas dari pengalaman pahit diskriminasi. Ia pernah ditolak oleh dua sekolah dasar di sekitar tempat tinggalnya, dengan alasan belum memiliki kesiapan untuk menerima siswa disabilitas. Penolakan itu bukan sekadar menutup akses pendidikan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jalan yang harus ia tempuh akan berbeda dan lebih panjang. Sejak kecil, Arif harus berpisah dari rumah untuk bersekolah di sebuah SDLB di Kota Yogyakarta, tinggal di asrama, dan belajar mandiri jauh dari keluarga. Di usia yang seharusnya dipenuhi kehangatan rumah, ia justru ditempa oleh jarak, keterbatasan, dan tuntutan untuk bertahan.
Meski demikian, sosok periang ini memilih cara yang amat elegan untuk menjawab diskriminasi, yakni dengan karya dan prestasi. Tiap kali ia pulang ke Ngawen, setidaknya ia membawa satu piala dan dipajang di ruang tamu, menunjukkan kepada sekitar bahwa kondisi fisik tak menjadi halangan untuk Arif berprestasi.
“Saya pajang di ruang tamu supaya apa? Supaya setiap orang yang datang ke rumah, bisa mengetahui bahwa kondisi saya ini hanyalah fisiknya saja yang mengalami hambatan, tapi untuk berprestasi, untuk belajar, semua orang itu sama”, tegasnya.
Ketika Jalan Tertutup, Ia Menciptakan Jalan
Perjalanan pendidikan Arif tak pernah berjalan di jalur yang mudah. Saat menempuh studi S1 Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga, ia mendapatkan dukungan melalui program KIP Kuliah. Namun, bantuan itu belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Di tengah kesibukan kuliah, Arif berinisiatif berjualan parfum laundry dari kamar kosnya, sebuah upaya sederhana yang menjadi penopang kemandiriannya sekaligus bukti bahwa keterbatasan tak pernah menghalanginya untuk terus berusaha.
Keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi membawanya pada tantangan yang tak kalah berat. Arif mendaftar Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas untuk program Magister Manajemen Pendidikan Islam. Namun saat itu, persyaratan skor bahasa Inggris masih diberlakukan tanpa pengecualian, bahkan bagi pendaftar disabilitas netra. Ia pun harus berhadapan dengan kenyataan pahit, ditolak oleh beberapa lembaga penyedia tes TOEFL di Yogyakarta yang belum siap mengakomodasi kebutuhan peserta disabilitas.
Tak menyerah pada keadaan, Arif memilih mencari jalan lain. Ia mendaftar ke lembaga tes yang berbeda tanpa terlebih dahulu menjelaskan kondisinya. Meski sempat menghadapi penolakan, kehadirannya justru mendorong lembaga tersebut untuk mulai menyesuaikan sistem dan metode ujian agar lebih inklusif. Dari ruang ujian yang awalnya terasa tertutup, Arif berhasil membuktikan kemampuannya. Ia lulus tes TOEFL, melampaui batas yang sempat menghalanginya, dan pada akhirnya berhasil lolos seleksi Beasiswa LPDP, membuka babak baru dalam perjalanan pendidikannya.
“Disabilitas itu banyak banget yang belum bisa meraih pendidikan tinggi, nah hadirnya LPDP membuat saya dan teman-teman disabilitas lainnya bisa meraih mimpi, bisa melanjutkan pendidikan tinggi, dan akhirnya teman-teman disabilitas bisa menikmati pendidikan yang setara”, ungkapnya.
“Setiap Gerakku Adalah Karya”
Perjalanan Arif tak berhenti pada capaian akademik. Ia memilih menjadikan pengalamannya sebagai pijakan untuk berkontribusi, menguatkan sesama, sekaligus mendorong perubahan yang lebih luas. Arif aktif dalam berbagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas, menghadirkan ruang-ruang yang lebih inklusif di tengah masyarakat.
Salah satu inisiatifnya adalah kegiatan walking tour, mengajak masyarakat dan pemangku kebijakan mengunjungi ruang publik seperti taman kota dan museum dari perspektif disabilitas. Melalui pengalaman langsung itu, Arif ingin menunjukkan bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang harus diwujudkan dalam fasilitas publik. Ia juga terlibat dalam komunitas sutradara film disabilitas Sat Adhirajasa, yang menjadi ruang kolaborasi bagi penyandang disabilitas dan nondisabilitas dalam berkarya di bidang film, akting, dan penulisan skenario, menciptakan karya yang setara sekaligus membuka akses representasi yang lebih luas.
Di sisi lain, Arif menyalurkan kecintaannya pada seni melalui band dan paduan suara, membuktikan bahwa ekspresi kreatif tak mengenal batas fisik. Ia juga menggagas Braille School, sebuah inisiatif untuk mengenalkan huruf braille kepada masyarakat umum, agar literasi braille tak hanya dimiliki oleh penyandang disabilitas netra, tetapi dipahami oleh semua. Melalui komunitas Braillient Indonesia, Arif turut aktif dalam pendampingan belajar, peningkatan kemampuan bahasa Inggris, hingga produksi audiobook. Dari gerakan ini, ia berhasil menggalang dan menyalurkan 276 paket Iqro serta 20 paket Al-Qur’an braille, sebuah upaya nyata agar penyandang disabilitas netra dapat menjalankan ibadah dengan akses yang setara.
Bagi Arif, inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan gerakan yang harus terus dihidupkan melalui karya, kolaborasi, dan keberanian untuk membuka jalan bagi yang lain.
“Saya kerap tersandung, terjatuh, bahkan terluka. Bagi saya yang disabilitas, menjalani perjuangan ini jujur tidak mudah. Namun ini tetap saya jalani sepenuh hati, menjaga nyala semangat dan tak kehilangan harap”, tutupnya.


Join our subscribers list to get the laterst content and updates directly to your inbox










































